Krisis Iklim Dampaknya Kian Nyata

Yayasan Taruna Hita Global menyelenggarakan Forum Komunikasi Komunitas Lingkungan Kabupaten Buleleng di Singaraja pada tanggal 22-23 Maret 2026 yang bertajuk: 

"KRISIS LOGIKA MELAHIRKAN KRISIS IKLIM BERDAMPAK KRISIS KEMANUSIAAN"

Kegiatan ini dihadiri berbagai kalangan, mulai dari pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum. Acara tersebut bertujuan meningkatkan kesadaran publik mengenai pentingnya pola pikir yang logis dan bertanggung jawab dalam menyikapi isu lingkungan, khususnya krisis iklim yang kian nyata dampaknya. 

Dalam diskusi yang berlangsung interaktif, peserta diajak memahami keterkaitan antara cara berpikir manusia dengan berbagai kerusakan lingkungan yang terjadi. Penekanan diberikan pada pentingnya perubahan perilaku sehari-hari sebagai langkah konkret menjaga kelestarian alam.

Keynote Speaker Forum Bapak Ida Bagus Arya Yoga Bharata dan para peserta memberikan masukan dan saran dalam forum diskusi untuk Pengendalian Krisis Iklim di Kota Singaraja, disampaikan sejumlah poin masukan dan saran strategis untuk para pemangku kepentingan di Kota Singaraja dan Kabupaten Buleleng. Berdasarkan data spasial, analisis ilmiah, dan kondisi lapangan yang terpapar, ditemukan beberapa fakta kritis: Ancaman Banjir Tinggi mencapai 8,73% dari total luas Kota Singaraja, dan hampir 50% wilayah masuk zona ancaman sedang yang perlu diwaspadai. Ruang Terbuka Hijau (RTH) berupa Formasi Hutan hanya tersisa 2,69% dari luas wilayah Kota Singaraja, jauh di bawah kebutuhan ideal. Sampah organik tidak terkelola mencapai hampir 80% di TPA Bengkala, menjadi sumber emisi gas rumah kaca sekaligus bom waktu lingkungan. Wilayah pesisir dan sempadan pantai memiliki tingkat kepadatan penduduk dan aktivitas tinggi, namun rentan terhadap kenaikan muka air laut dan banjir rob. Oleh karena itu, kami mengajukan masukan dan saran sebagai berikut:

  1. Untuk Pemerintah Daerah (Kabupaten Buleleng & Kota Singaraja) Revisi dan Penegakan Zonasi Tata Ruang Segera mengevaluasi dan menegakkan kembali batas sempadan pantai (minimal 100 meter dari garis pasang tertinggi) sebagaimana amanat Perpres No. 51 Tahun 2016, terutama di wilayah pesisir padat seperti Kampung Bugis, Kampung Anyar, Kampung Baru dan Kaliuntu. Membatasi izin pembangunan di zona ancaman banjir tinggi dan sedang, serta mewajibkan sistem drainase berwawasan lingkungan layak secara teknis dan berfungsi pada setiap pengembangan kawasan. Reformasi Tata Kelola Sampah Berbasis Sumber Mempercepat implementasi Pembangunan Berkelanjutan dengan fokus pada pengolahan sampah organik di sumber (rumah tangga, desa adat, dan pasar) menggunakan metode komposting, biosaver46, mengingat hampir 80% sampah di TPA adalah organik. Mempertegas pengelola kawasan (perhotelan, sekolah, perkantoran) yang menerapkan pemilahan sampah sesuai Pedoman DKLH Bali (2020). Melakukan audit baik dari sisi keuangan dan kapasitas pengelolaan terhadap TPA, TPS, TPST, TPS3R yang selama ini sudah berdiri. Intervensi Prioritas Berbasis Kepadatan Penduduk Memprioritaskan intervensi teknis dan anggaran di wilayah dengan kepadatan penduduk sangat tinggi (sebagaimana terpeta dalam paparan) yang memiliki tingkat kerentanan banjir dan potensi timbulan sampah tinggi. Membangun sistem monitoring berkala berbasis data spasial GIS untuk memetakan kemajuan pengurangan risiko bencana dan peningkatan tutupan lahan hijau. 
  2. Untuk Desa Adat dan Desa Dinas Pemberdayaan Peran Desa Adat dalam Pengelolaan Lingkungan Mendorong setiap Desa Adat untuk membuat awig-awig (peraturan desa adat) terkait pengelolaan sampah dan perlindungan kawasan hutan/tukad (sungai), terutama dalam mengatur sampah upakara/yadnya yang saat ini masih tercampur dan menjadi beban lingkungan. 

  3. Membentuk Subak atau kelompok lingkungan yang secara kolektif mengelola ruang terbuka hijau dan sistem drainase tradisional di wilayahnya. Pengaktifan Bank Sampah dan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Skala Kawasan Mengoptimalkan fungsi bank sampah dan TPST di tingkat desa/kelurahan sebagai pusat pemilahan dan pengolahan sampel, sehingga mengurangi beban TPA Bengkala. Mengintegrasikan pengelolaan sampah dengan upaya konservasi sungai yang melintasi kawasan perkotaan.
  4. Untuk Masyarakat Umum Perubahan Perilaku dari Hulu Memulai kebiasaan memilah sampah dari rumah, minimal memisahkan sampah organik (sisa makanan, dedaunan) dan anorganik (plastik, kaca). Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan mengelola sampah organik secara mandiri melalui komposter rumah tangga atau memanfaatkan lahan pekarangan untuk lubang resapan biopori. Partisipasi Aktif dalam Aksi Kolektif Terlibat aktif dalam kegiatan gotong royong membersihkan sungai, pantai, dan saluran drainase di lingkungan masing-masing, terutama menjelang musim hujan. Menjadi agen perubahan dengan melaporkan secara partisipatif jika menemukan indikasi pencemaran, pembuangan sampah liar, atau pelanggaran tata ruang di wilayahnya. Penutup Krisis iklim bukan lagi ancaman yang jauh, tetapi telah menjadi kenyataan yang dirasakan langsung oleh warga Singaraja, sebagaimana tercermin dari kejadian banjir bandang berulang dan darurat sampah di TPA Bengkala. Perubahan signifikan hanya dapat terwujud jika ada sinergi yang kuat antara pemerintah, institusi adat, dan seluruh lapisan masyarakat. Kami berharap poin-poin di atas dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pengambil kebijakan dan menjadi pemicu gerakan bersama untuk mewujudkan Singaraja yang lebih tangguh iklim, berkelanjutan, dan nyaman dihuni. Ni Luh Mang Puspita Widyaningsih (Koordinator Diskusi Lingkungan Singaraja. 2026)


Sebagai penutup, seluruh peserta bersama-sama menandatangani Ikrar MKD "Menjaga Kebersihan Dimanapun" berada sebagai bentuk komitmen nyata terhadap pelestarian lingkungan. Yayasan Taruna Hita Global berharap kegiatan ini menjadi langkah awal dalam membangun kesadaran kolektif sekaligus mendorong aksi nyata masyarakat dalam menghadapi krisis iklim.

*IKRAR MKD*

Menjaga Kebersihan Dimanapun

  1. #stopluutung (stop luu tung artinya dilarang membuang sembarangan)
  2. #stopluubak (stop membakar sampah)
  3. #min0.5 I'm Zero Waste (minimal 0,5 Waste artinya bisa mengelola sampah organiknya)
  4. #gersaplast (Greneration Save Plastics / Generasi Simpan Plastik)
**** ****** 

Join Now Roadshow MKD

Beach Cleanup
Edukasi
**** ******





Bamboo Seed

Laporan Kegiatan dan Keuangan THK2022

Taru Hijau Komunitas

POHON RAWAT